Friday, December 16, 2016

Cara Menggunakan CentOS 7.3 di Raspberry Pi 2/3 + Link Download IIX/Lokal

Sekitar dua hari yang lalu tepatnya, om Fabian Arrotin salah seorang developer CentOS mengumumkan rilis dari CentOS 7.3 untuk platform ARM (lebih tepatnya armhfp, kalau dalam istilah CentOS/Red Hat). Setidaknya rilis umum untuk platform ARM ini bisa dicoba dan berjalan di Raspberry Pi 3 dan 2, Banana Pi, CubieTruck, dan Cubieboard SBC.

Berbahagialah kawan, CentOS 7.3 ini diturunkan langsung dari Red Hat Enterprise Linux 7.3. Linux versi enterprise yang diguankan berbagai perusahaan besar didunia, jadi kelanjutan dan pengembangannya sudah pasti terpercaya. 

Thursday, December 1, 2016

Yang Baru di Raspbian-with-PIXEL? SSH Disabled by Default!

Secara resmi, Raspberry Pi Foundation baru saja merilis 2 hari yang lalu, Raspbian dengan Desktop PIXEL terbaru pada tanggal 30 November 2016. Sudah bisa didownload di sini: https://www.raspberrypi.org/downloads/.

a_security_update_for_raspbian_pixel_-_raspberry_pi

Yang baru dari Raspbian with PIXEL 1.1 ini cukup penting.

Monday, November 28, 2016

Bikin UPS Sendiri untuk Raspberry Pi!

Ada kalanya project dengan Raspberry Pi kita butuh stabilitas catu daya yang mumpuni,apalagi jika butuh catu daya 24 jam yang handal sekalipun hidup di area dimana listrik PLN sering padam. Ini solusinya bang, bikin UPS sendiri untuk Raspberry Pi. Contohnya ada di project di Raspi-UPS

Untuk proyek ini kita butuh setidaknya 4 alat ya gan:


  • Raspberry Pi

  • Charger Mini USB 1-2 A

  • Powerbank dengan Duo-Charge (saya pake Merk Artha, 10000mAh)

  • LAN Switch atau Router, saya pakai mini Router dari GLiNET (kecil dan cuma butuh 5v daya seperti perangkat USB lain :) )



Monday, November 21, 2016

Cara Install TeamViewer di Raspberry Pi 3

Untuk mengikuti tutorial ini setidaknya sampeyan sudah paham, sudah punya Raspberry Pi 3 yang berjalan normal dan punya desktop ya (Raspbian 8.* atau Raspbian dengan Pixel desktop). Kemudian, punya koneksi internet (yang cepet) juga mutlak, karena untuk konek ke Raspberry Pi lewat Teamviewer harus lewat Internet. Hanya Raspberry Pi 2 dan 3 yang bisa dipasangi Teamviewer. Raspberry Pi 1 dan Zero nggak bisa ya gan.teamviewer_for_raspberry_pi_-_preview_landing_page_-_teamviewer_pages

Untuk menginstall TeamViewer, silakan download dulu file DEB dari situs Teamviewer berikut: https://pages.teamviewer.com/published/raspberrypi/

Instalasi dan Penggunaan Bower, Package Manager utk Javascript

Website modern, kini mau tidak mau disusun dengan banyak komponen javascript, ada framework, ada library, ada asset dll. Memantau perkembangan masing-masing komponen dan memastikan kesemuanya berjalan uptodate kayanya bukan pekerjaan yang gampang, apalagi jika sudah bersinggungan dengan banyak framework dan library javascript.

Untuk itulah kita butuh solusi untuk manage semua kebutuhan diatas. Di PHP kita mengenal composer, di javascript ada bower. Bower sebenarnya tidak hanya mampu mengelola kebutuhan Javascript saja, tapi juga file HTML, CSS, Font dan Image.

bower_-_a_package_manager_for_the_web

Instalasi Bower



Sebelum menginstall bower, setidaknya sudah harus ada nodenpm dan git ya. Untuk instalasi bower, cukup jalankan perintah ini di terminal/console:

[sourcecode]npm install -g bower[/sourcecode]

pada direktori public tempat asset biasanya di load ya.

Penggunaan Bower



Untuk menggunakan bower, semuanya bisa dilakukan lewat terminal/console. Seluruh packages yang diinstall oleh bower, akan masuk ke folder bower_components/.

Untuk melakukan instalasi packages, tulis nama paket setelah perintah bower install. Misal:

[sourcecode]bower install jquery[/sourcecode]

Jika packages itu kebetulan tersedia di Github, kita juga cukup menginstallnya dengan tag shorthand dari Githubnya. Contoh

[sourcecode]bower install desandro/masonry[/sourcecode]

atau jika hanya ada repo git saja, contohnya:

[sourcecode]bower install git://github.com/panahbiru/mrvue.git[/sourcecode]

dan jika hanya tersedia pada website saja, bisa pakai contoh berikut:

[sourcecode]bower install http://www.flotcharts.org/flot/jquery.flot.js[/sourcecode]

Bower sendiri menyediakan juga fitur searching packages di https://bower.io/search/

Untuk penggunaan javascript itu sendiri bisa digunakan secara manual ataupun menggunakan Grunt atau RequireJS. Cara manualnya, mudah. Contohnya:

[sourcecode]<script src="bower_components/jquery/dist/jquery.min.js"></script>[/sourcecode]

Sunday, November 20, 2016

Introducing Banana Pi M2 Ultra, with Native SATA Support & 2GB RAM

Sinovoip’s $48, open-spec “Banana Pi M2 Ultra” SBC updates the M2 with native SATA support and 2GB RAM, plus a new quad core Cortex-A7 Allwinner R40 SoC.

Banana Pi project by Sinovoip launch to day, the Banana Pi M2 Ultra on Aliexpress for $48, only $4 more than the Banana Pi M2 SBC, which similarly has a 92 x 60mm footprint and a Raspberry Pi compatible expansion connector. Like the M2 and the smaller, less feature rich, $37 Banana Pi M2+, the M2 Ultra is open source and community backed, and runs Linux or Android on a quad-core Cortex-A7 Allwinner SoC. Yet, the M2 Ultra runs on a new Allwinner R40 (see farther below), which like the Allwinner H3 found on the M2+, is paired with a Mali-400 MP2 GPU rather than the PowerVR SGX544MP2 found on the original M2 board’s Allwinner A31.


The Allwinner R40’s key advantage over the H3 and A31 is the addition of native SATA support. This benefit is extended to the Banana Pi M2 Ultra board, which unlike the M2 model, also offers 8GB of eMMC storage, with options ranging up to 64GB.


The M2 Ultra provides twice the RAM of the M2, at 2GB DDR3, and makes Bluetooth 4.0 standard rather than optional. The M2 Ultra sacrifices one of the M2’s four USB 2.0 host ports, but that would be the port you would otherwise be using for slow USB-based SATA access.


According to a story in CNXSoft that alerted us to the M2 Ultra’s arrival, it remains to be seen if the Allwinner R40’s SATA implementation is much of an improvement over the relatively slow (36MB/s) SATA disk-write performance of the Allwinner A20, which it nominally replaces. Still, this is clearly a major upgrade over USB-based SATA.



Otherwise the M2 Ultra appears to be almost identical to the M2, with features like microSD, WiFi, GbE, HDMI, MIPI-DSI, and an audio jack. Like other Banana Pi models, including the octa-core Cortex-A7 Banana Pi M3, you get a 40-pin expansion interface compatible with Raspberry Pi add-ons.

Specifications listed for the Banana Pi M2 Ultra include:


  • Processor — Allwinner R40 (4x Cortex-A7); ARM Mali-400 MP2 GPU @ 500MHz

  • RAM — 2GB DDR3 733MHz (shared with GPU)

  • Storage:MicroSD slot

  • 8GB eMMC, expandable to 16/32/64GB

  • SATA interface

  • Wireless — 802.11b/g/n WiFi (AP 6212); Bluetooth 4.0

  • Networking — Gigabit Ethernet port

  • Multimedia I/O:HDMI 1.4 out with audio, TV out

  • 4-lane MIPI-DSI out for connection to suitable LCDs

  • 3.5mm audio jack

  • Microphone

  • Other I/O3x USB 2.0 host ports

  • Micro-USB 2.0 OTG port

  • Debug UART

  • 40-pin, RPi-compatible expansion header with GPIO, UART, I2C, SPI, PWM, I2S, etc.

  • Other features — LEDs; IR receiver; reset, power. U-Boot buttons;

  • Power — 5V DC port; 3.7V lithium battery support

  • Weight — 45 g

  • Dimensions — 92 x 60mm

  • Operating system — Debian, Ubuntu, Raspbian Linux; Android



Buy from AliExpress Now (no-refferal) for 48 USD

Wednesday, October 26, 2016

Raspberry Pi Foundation Update Raspbian, Tutup Celah "Dirty COW"

Pengguna Linux pada dua minggu terakhir ini heboh terkait adanya bug besar dengan nama "Dirty COW". Bug privilege escalation ini bisa dengan sekejap mata membuat regular user di Linux menjadi user setara root dengan exploit yang sederhana sekali.

Pada tanggal 26 Oktober 2016, Raspberry Pi Foundation mengikuti langkah sejumlah vendor lain seperti Canonical, Fedora, SUSE dll yang merilis patch kernel Linux yang terkena bug ini. Raspberry Pi Foundation mengeluarkan versi terbaru Raspbian yang sudah bebas celah "Dirty COW".

Kenapa Harus Update?





Pengguna Raspberry Pi yang terkoneksi internet publik, khususnya yang menggunakan RPi sebagai Internet of Things adalah subyek rentan bagi serangan. Sepekan yang lalu, Internet Dunia sempat lumpuh ketika penyedia DNS terkemuka di dunia diserang dengan serangan DDOS oleh sekumpulan devais IoT yang tidak dipatch. Dan, sejumlah domain besar (Twitter, Microsoft, dll) pun down karenanya.

Bagi yang malas memformat ulang dan memasang ulang Raspbian di SDCard RPi, bisa juga mengupdate dengan perintah:

[sourcecode]
sudo apt-get update
sudo apt-get install raspberrypi-kernel
[/sourcecode]

Oh ya, jika kita tidak menggunakan Raspbian (misal Ubuntu MATE atau Snappy) silakan update juga.

Sumber: https://www.raspberrypi.org/blog/fix-dirty-cow-raspberry-pi/

Tuesday, October 25, 2016

Ubuntu Snappy Core 16 RC Sudah Dirilis! Versi Raspberry Pi Pun Ada

Pekan ini, om Michael Vogt mengumumkan bahwa Ubuntu Snappy Core 16 Release Candidate sudah resmi dirilis gan. Images untuk versi PC 32 bit, 64 bit, dan Raspberry Pi pun sudah siap diunduh.

Bagi yang belum tahu, Ubuntu Snappy Core adalah salah satu versi ringkas (slimmed-down) dari Ubuntu, dimana sistem operasi Ubuntu diperas hingga sari-sarinya, tersisa beberapa ratus megabyte saja. Pun, model install dan uninstall software didalamnya juga dibedakan. Pakai metode dan paket Snap.

Tuesday, July 26, 2016

Inilah 5 Distro Linux untuk Raspberry Pi selain Raspbian

Bukan sesuatu yang mengherankan kalau hampir semua pemilik raspberry pi pernah atau sedang menggunakan Raspbian Linux dari Debian dari Raspberry Pi itu. Namun, ada banyak OS Linux lain yang bisa dicoba untuk Raspberry Pi loh. Saya catat ada sekitar 5 OS, diluar OS yang berfokus jadi media centre seperti OSMC, OpenELEC, dan lain-lain.

Inilah 5 OS Raspberry Pi selain Raspbian:

Wednesday, July 20, 2016

Jangan Kaget! Komputer Pesaing Raspberry Pi ini Cuma 5 Dollar

Tampaknya demam Internet of Things dan Development Board masih belum reda. Satu lagi development board hadir dengan harga sangat murah. Cuma 5 Dollar!

Nama pesaing dari Raspberry Pi Zero ini adalah Onion Omega 2. Kini sedang mencari dana di platform Kickstarter. Ukuran dari Omega2 adalah 1/4 dari ukuran Raspberry Pi dan 1/3 dari ukuran Arduino Uno.

Monday, July 18, 2016

Gampang! Ini caranya Bikin Windows 10 tampil Seperti Ubuntu

Bagi yang masih merasakan dual booting Windows dengan Ubuntu, dan lebih memilih interface Ubuntu yang bersih dan teratur, bisa gunakan trik ini. Dengan trik ini kita bisa merubah tampilan Windows 10 menjadi seperti Ubuntu.

Untuk menggunakan trik ini, tentunya anda punya Windows 10 yang aktif dan mempunyai sedikit keberanian, karena aksi ini termasuk cukup riskan. Software yang akan kita pakai adalah Maverick 10.

Saturday, June 18, 2016

Browser Chrome Rakus RAM? Ini Sebab dan Solusinya

Sejak kehadiran pertama kali, Google Chrome memang menarik perhatian saya. Banyak kelebihan yang diusung pada saat itu dibanding dengan browser Firefox. Dari sisi performa, dulu Google Chrome lebih enteng ketimbang Firefox. Namun semuanya berubah, lambat laun, modernisme membuat Google Chrome menjadi rakus RAM.

Tidak percaya? Silakan buka 1-2 tab di Google Chrome dan buka Task Manager. Berapa Megabyte yang dibutuhkan Chrome? Dikomputer saya sampai 800 MB.

Friday, May 20, 2016

Butuh Men-disable Notifikasi Ubuntu Saat Presentasi? Gunakan NoNotifications!

Pernahkah kamu memakai Ubuntu disaat presentasi di kantor atau dikampus, dan bermasalah dengan beberapa notification yang tiba-tiba datang dan mengganggu presentasi? Ini solusinya.

Ada satu lagi add-on bagi pengguna Ubuntu rahimahullah sekalian. Namanya NoNotifications. Secara sederhana, NoNotifications akan mendisable sementara notifikasi milik NotifyOSD.



NoNotifications menawarkan 2 opsi untuk kita gunakan. Yaitu "Don't Disturb" dan "Show Notifications". Untuk sementara, pengguna Ubuntu dengan Unity 7 bisa menikmati plugin ini.

Cara Install

Untuk menginstall plugin ini, silakan gunakan PPA yang sudah disajikan oleh pengembangnya. Berlaku untuk Ubuntu 16.04, 15.10, dan 14.04.

sudo add-apt-repository ppa:vlijm/nonotifs

sudo apt update

sudo apt install nonotifs



Thursday, April 7, 2016

Mengenal Tawk.to, Alternative Zendesk/Zopim yang 100% Free

Fitur Live Chat di sebuah Website maupun Sistem Informasi memang mempunyai efek yang luar biasa. Dengan Live Chat, pengguna dapat bertanya langsung ke Customer Support untuk dibantu. Banyak solusi yang bisa digunakan, dari membangun sendiri platform Live Chat yang terintegrasi dengan sistem ataupun menggunakan platform yang sudah mature dan tinggal menggunakan API yang disediakan.

Di dunia CRM, khususnya Live Chat, tampaknya ada 2 pemain besar yang sampai saat ini mendominasi. Mereka adalah Zendesk dan Zopim. Harganya bukan main untuk sebuah startup ataupun website pemula, sekitar 10-15 dollar per bulan untuk operator lebih dari satu.

Nah, mungkin bagi anda yang tidak ingin membayar terlalu mahal dan mendapatkan alternatif dari dua CRM diatas, silakan gunakan Tawk.to

Sunday, February 28, 2016

Rumor tentang Raspberry Pi 3: Ada Wifi & Bluetooth!

Rumor tentang akan hadirnya Raspberry Pi 3 semakin meluas. Hal ini setelah adanya dokumen foto dari FCC Amerika yang sedang memproses sertifikasi bagi perangkat yang disebut-sebut sebagai 'Raspberry Pi 3'.

Raspberry Pi 3 sebagaimana rumor yang berkembang ternyata merupakan versi update dari Raspberry Pi 2 dengan tambahan konektivitas Wi-Fi, Bluetooth dan BLE (Bluetooth Low Energy). Jika rumor ini benar (pada nantinya), RPi3 akan menjadi edisi Raspberry Pi yang pertama kali mempunyai konektivitas wireless secara default. Sebelumnya, para pehobi harus mengeluarkan kocek untuk beli dongle USB Wi-Fi atau USB Bluetooth.

Thursday, January 28, 2016

Kecewalah! Mulai Maret, Google Chrome Tidak Lagi Support Ubuntu 32 Bit!

Ya, kecewalah saudara-saudara. Khususnya kalian yang masih menggunakan komputer 32 bit dan menggunakan Google Chrome sebagai browser andalan.

Google resmi akan menghentikan support untuk Ubuntu 32 Bit mulai Maret 2016. Dan tidak pakai ampun saudara, semua distro Linux (termasuk *nix seperti Mac OS X) tidak akan mendapatkan lagi Google Chrome versi 32 bit.

User yang sudah memakai Google Chrome di komputer 32 bit miliknya memang tidak akan terlalu banyak terpengaruh dengan aksi Google ini. Setidaknya sampai mereka sadar bahwa browser miliknya sudah tidak bisa diupdate lagi.

Kenapa 32 bit di Campakkan?


Kenapa sampai komputer 32 bit dicampakkan? jawabannya singkat, karena jumlah penggunanya yang makin sedikit. Menurut Google, jumlah pengguna komputer 32 bit sudah tidak terlalu signifikan lagi untuk mereka openi. Dan ditambahkan alasan pemanis: supaya pengguna Google Chrome di Linux makin mendapat pengalaman yang lebih jika menggunakan versi 64 bit.

Inilah kutipan tulisan dari kang Dirk Pranke, salah seorang leader di Chromium:


Jangan Nangis


Berita diatas jangan sampai menambah beban pikiranmu, sehingga skripsimu nggak kelar-kelar. Tenang, kamu masih bisa pakai Google Chrome 32 bit meskipun nggak bisa di update. Atau kalau kamu lelaki sejati pecinta Opensource, pasti lebih memilih migrasi menggunakan Chromium, browser open-source dari Google (-- yang di branding jadi Google Chrome)  yang masih menyedikan versi 32 bit.

Silakan pakai, tinggal gunakan command:
sudo apt-get install chromium-browser